PUASA

2008 Agustus 28
tags: ,
by mo_cab™

Puasa, pengendalian diri dari segala nafsu, segala keinginan, dari keinginan untuk makan dan minum, keinginan bersetubuh, keinginan melihat, mendengar, dan berbicara yang tidak baik, baik senda gurau maupun serius (gosip sambil serius, misalnya). Bagaimana atau apa yang terjadi pada tubuh seorang manusia yang berpuasa. Kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekedar “menahan” tapi “mengendalikan” segala hawa nafsu, (kecuali hawa nafsu untuk berbuat baik), sungguh maha besar Allah dengan segala rahasia yang diciptakannya di dalam tubuh kita.


Seseorang ketika makan, tentunya makanan itu setelah sampai dilambung akan diolah. Proses pengolahan itu akan memerlukan energi yang besar, ditambah proses pencernaan di tempat lain. Energi dalam tubuh manusia dihasilkan oleh suatu unsur kimia yang bernama ATP (Adenosin tri Phospat)dengan suatu proses metabolisme tubuh yang menakjubkan.
Ada suatu sel yang berperan dalam menghasilkan ATP yaitu mitokondria. Penelitian oleh ilmuwan barat tahun 1987 menyebutkan satu sentimeter kubik sel mitokondria dapat menghasilkan energi listrik sebesar ratusan ribu volt. Padahal jumlah sel mitokondria dalam tubuh cukup besar. CUma tidak semua manusia mengetahui rahasia bagaimana mengolah energi sebesar itu.
Kita kembali ke puasa. Orang yang berpuasa, setidaknya setelah 2-4 jam makan sahur proses pengolahan makanan akan sudah selesai. Jadi otomatis sampai dengan datangnya buka puasa, akan ada energi yang berlimpah yang  di hari biasa dipakai juga buat mengolah makan siang, ngemil, makan sore, minum, marah-marah, tertawa terbahak-bahak, hubungan suami-istri, dan lain-lain. Lalu apa artinya? artinya saat kita menjalankan puasa energi yang kita hasilkan / rasakan akan berlipat ganda dibanding jika tidak berpuasa.
Back again, dari kelebihan energi itu, bisa kita gunakan untuk kepentingan lain yang bermanfaat, misalnya untuk seorang pelajar, saat berpikir otak akan memperoleh energi lebih tersebut sehingga konsentrasi, daya ingat, dan daya-daya lainnya lebih baik. Untuk orang yang terluka, maka proses penyembuhan (regenerasi sel) akan lebih cepat, karena pasokan energi yang berlimpah tersebut. Hal-hal tersebut terjadi tanpa kita sadari, terjadi begitu saja. KEcuali mungkin orang-orang tertentu yang sudah mengetahui rahasia pengolahan energi “simpanan”, dia dapat merasakan dan bahkan mengalirkan energi tersebut dengan sadar/sengaja ke bagian tubuh manapun yang ingin ia inginkan. Misal ingin menambah energi ke otak, dia tinggal memerintahkan saraf tertentu untuk melakukannya,  tinggal alirkan energi ke yang tempat yang sesuai.
Mungkin konsep kembali ke fitrah (suci) secara fisik berkaitan dengan regenerasi sel ini. Saya kutip dari seorang ahli gizi, saat berpuasa, proses pergantian sel (misal sel-sel kulit yang mati), akan berlangsung dengan cepat, dan dalam masa 30-40 hari, sel-sel dalam tubuh manusia (baik kulit, maupun organ-organ tubuh) 100% terganti oleh sel-sel yang baru, sehingga manusia akan tampak sehat dan lebih muda (selamat tinggal Vaselin Intensive Care…selamat tinggal Natur-E). Eh, banyak lho dokter-dokter di luar negeri yang menganjurkan berpuasa untuk mempercepat proses penyembuhan!
Bagaimana dengan pengendalian hawa nafsu? Orang yang tenang, mampu mengendalikan emosinya (bukan menahan emosi. Kalau menahan, tersenggol dikit aja, bisa meledak), metabolisme tubuh, serta perputaran energi tubuhnya menjadi stabil. Beda dengan orang yang emosi, atau setidaknya menahan emosi, tetapi mukanya merah padam, nafasnya memburu, maka perputaran energi tubuhnya sangat kacau balau sekali,konsentrasinya tidak ada sama sekali, tidak sadar terhadap lingkungan sekitar (tidak jarang orang yang emosi akan menantang berkelahi sambil mencopot bajunya, padahal lagi ditempat umum, istilahnya kemaluannya hilang, lah), sehingga sebenarnya mereka akan mudah dikendalikan (dikerjain, maksudnya). HAl tersebut akan membuang energi secara pecuma. Makanya orang yang pemarah, atau “buang-buang” energi akan “pendek ke tanah”.
Jadi, dalam berpuasa, kalau bisa kita meningkat dari tingkatan yang umum (hanya menahan perut dan birahi saja),ke tingkatan khusus (yaitu ditambah dengan mengendalikan mata, telinga, mulut, dan anggota tubuh lainnya). Atau kalau bisa ke tingkatan yang lebih tinggi lagi, puasanya orang khususnya khusus (bingung?), pendeknya menahan atau lebih tepatnya mengendalikan segala sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla secara keseluruhannya (lihat kitab ihya ‘ulumuddin, bab rahasia puasa).

Selamat datang ramadhan dan selamat berpuasa…

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS