Merokok? jangan dekat-dekat saya

2008 Agustus 13
by mo_cab™
Save kids

Save kids

Anak yang sehat adalah impian dan harapan semua orang tua. Namun banyak harapan orang tua tersebut justru tidak diiringi oleh contoh dan perilaku orang tua ataupun lingkungan sekitar anak-anak mereka. Sebagai contoh adalah asap rokok. Banyak sekali orang tua (ataupun anggota keluarga) yang perokok (dan egois) merokok di dekat anak-anak bahkan di dalam kamar,rumah ataupun mobil.

Entah mengapa, saya menangkap para perokok bahkan dalam keluargapun selalu minta dihormati haknya untuk merokok dimana ia berada. Mereka seperti tidak menangkap gelagat orang sekitarnya yang tidak menginginkan adanya bau dan asap rokok di tempat tinggal bahkan tidak peduli bahwa ada anak-anak disitu.

Disebutkan di jurnal-jurnal kesehatan manapun, perokok pasif mendapatkan bahaya yang lebih daripada perokok aktif akibat asap rokok, ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Kompas nenurut hasil sebuah penelitian terbaru para ilmuan dari Universitas Hongkong, bayi dan anak-anak yang akrab bersama asap rokok menjadi rentan terhadap berbagai macam infeksi dan penyakit serius dan jadi perokok pasif membuat kekebalan tubuh menjadi lemah dan memicu timbulny penyakit pernafasan.

You are five times more likely to die of lung cancer with a bird in the house (www.cartoonstock.com)

You are five times more likely to die of lung cancer with a bird in the house (www.cartoonstock.com)

Saya rasa, saat ini kampanye anti rokok yang menekankan bahayanya merokok kepada para perokok kurang efektif. Berapa sering sih kita menasehati teman untuk berhenti merokok dengan fakta-fakta kesehatannya, namun hanya menjadi semacam angin lalu saja?

Beberapa tahun lalu, saya dan seorang teman saya perokok berat makan disebuah kantin kampus. Kebetulan satu meja kami adalah suami istri yang mungkin sedang menengok anaknya yang masih kuliah. Kami sempat mengobrol dan sampailah pada topik tentang rokok. Rupanya bapak tersebut adalah mantan perokok berat, dan karena penyakitnya dia berhenti merokok. Saat itulah dia menggambarkan bagaimana bentuk paru-parunya sudah sangat rusak, seperti bahan busa yang terkena air, rapat tidak ada pori-porinya sama sekali dan beliau menganjurkan teman saya itu untuk berhenti merokok. Setelah kami berpisah, teman saya berkomentar ngapain dia nasehatin saya, ini paru-paru saya sendiri tak perlu dia ikut campur.

Dan saya pun cukup kecewa dalam lingkungan tempat tinggal kami, para perokok tidak menghormati orang-orang yang tidak merokok. Mereka menghisap rokok di dalam rumah bahkan mereka merokok dimana anak-anak balita ada disekitar mereka. Mungkin nasihat yang cukup ampuh bila dikatakan pada mereka,”kami tidak peduli dengan kesehatanmu, kami tidak peduli dengan uangmu yang habis untuk beli rokok. Kami hanya peduli jika tempat tinggal dihormati untuk tidak dicemari oleh asap rokokmu”…

Setidaknya kita perlu mendukung upaya kak Seto Mulyadi yang mengusulkan kepada MUI untuk mengharamkan rokok.

Rokok dan Mentalitas

kita patut menghargai pula para perokok yang memiliki empati yang baik yang mampu mengerti kemungkinan orang lain disekitarnya ada yang tidak nyaman terhadap asap rokok, mereka memilih menjauh dan mencari tempat yang nyaman untuk menikmati rokok. Namun yang sehari-hari kita temui lebih banyak perokok yang tidak memiliki empati. sebagian besar para perokok menunjukan mental yang kurang baik. Mereka tidak toleran dan tidak ramah terhadap orang-orang lain disekitarnya. Mereka cenderung menyamaratakan orang lain sama dengan dirinya yang seorang perokok dan tidak bermasalah menghirup asap rokok. Saya yakin, semua perokok menyadari bahaya asap rokok bagi kesehatan dirinya, tapi tidak memperdulikan bahwa asap yang dia keluarkan mengganggu dan berbahaya bagi orang lain. Larangan merokok di tempat umum pun sekarang sudah tidak kelihatan gemanya.

Mengenai empati perokok ini sendiri telah dihasilkan hipotesis dari penelitian eWorld Indonesia, bahwa “ada hubungan negatif antara empati dengan perilaku merokok di tempat umum. Semakin tinggi empati seorang perokok, semakin rendah kemungkinannya merokok di tempat umum. Sebaliknya, semakin rendah empati seorang perokok, semakin sering ia merokok di tempat-tempat umum“.

Read More:

Keeping Home and Cars Smoke Free for Kids

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS