Relatifitas kebenaran
Kita tidak pernah tahu, di dunia ini mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya selalu mengacu dari sudut pandang mana manusia menilai itu benar dan itu salah.
Dari sudut pandang penegak hukum, terpidana kasus narkoba layak dijatuhi hukuman mati karena mereka secara tidak langsung telah membunuh nyawa orang lain akibat narkoba yang mereka jual. Dari sudut pandang seorang penegak HAM, hukuman mati adalah menghalangi hak hidup orang lain. Tidak selayaknya hal seperti itu di jatuhkan kepada siapapun.
Seorang pengendara menyalahkan pengemudi kendaraan didepannya karena mengerem mendadak, sehingga membuatnya panik. Sang pemilik kendaraan merasa benar dia mengerem mendadak karena ada orang yang menyeberang dengan tiba-tiba.
Benar dan salah selalu diartikan dari sudut pandang dan kesepakatan manusia. Amerika dan sekutunya membenarkan penjajahan (“pembebasan”) kepada rakyat irak karena mereka sepakat akan hal itu. Bagi negara-negara lain, mereka menganggap hal itu merupakan suatu kesalahan.
Kita manusia selalu berpatokan pada asas untung-rugi dalam mengartikan kebenaran. Jika apa yang dilakukan orang lain itu merugikan kita, maka itu merupakan suatu kesalahan. Jika menguntungkan maka itu suatu kebenaran. Mudah sekali mencari contohnya, karena banyak terjadi disekitar kita, bahkan pada diri kita sendiri hal tersebut selalu terjadi.
Maka dari itu, adakah kebenaran dan kesalahan? siapa yang berhak menyatakan sesuatu itu adalah benar dan salah? mampukah manusia melakukannya? Adakah yang namanya kebenaran dan kesalahan?
Kebanyakan manusia mendefenisikan salah dan benar berdasarkan asas untung-rugi. Kalau menguntungkan bagi kita, maka itu benar. Begitu sebaliknya. Bagi orang beragama, kebenaran sejati hanyalah milik Tuhan semata. Melalui kitab suci, manusia diajarkan mana itu salah dan mana itu pahit (dari sudut pandang) kita.
Konsep keikhalasan mungkin konsep yang paling baik untuk menghindarkan kita mengenai segala pertimbangan untung-rugi. Karena keikhalasan adalah segala perbuatan tanpa adanya dorongan keduniawian. Seorang pelajar mendalami ilmu dengan ikhlas tanpa adanya dorongan untuk mendapat pujian karena kepandaiannya ataupun dorongan akan kesuksesan kelak. Apabila dilakukan secara ikhlas otomatis dia akan belajar dengan sebaik-baiknya dan otomatis pula dia akan memiliki kepandaian dan akan memperoleh kesuksesan kelak. Dia tidak akan merasa kecewa apabila dia gagal dalam suatu hal, karena dia mengetahui sebab musabab-nya, lalu dia akan berusaha memperbaikinya. Lain halnya apabila dia tidak ikhlas, begitu memperoleh kegagalan meraih suatu prestasi maka hancurlah hatinya dan akan sulit bagi dia untuk membangun kepercayaan diri.
Demikian pula dalam hal karir. Siapapun kita apapun jabatan kita, lakukan dengan sebaik-baiknya dan penuh keikhlasan. Ibaratnya kita sebagai tukang sapu, jadilah tukang sapu yang baik. Tidak perlu kita merasa malu akan perkerjaan itu, karena sebagai tukang sapu yang baik kita memberikan kebahagiaan/kebaikan bagi orang lain, dan kebaikan itu akan kembali ke diri kita sendiri.