Sate “Kodok Ijo”
Pada tahun 80’an, rupanya ada salah satu partai politik yang sangat alergi dengan ABRI, khususnya AD. Hal ini terjadi saat Pemilu waktu itu. Saat itu sang komandan KODIM di suatu daerah di Jawa, mendengar bahwa para pemuda salah satu parpol akan mengadakan jamuan “sate kodok ijo”.
Jamuan tersebut dikalangan intel KODIM tidak lain adalah akan “membantai” pasukan TNI yang bertugas di desa terpencil di daerah kekuasaan sang DANDIM. Sengaja sang komandan tidak membawa banyak prajurit untuk pergi ke koramil yang akan “disate” tersebut, hanya bersama sopir dan ajudannya saja menggunakan mobil land rover besar, karena bagaimanapun mereka yang akan ditemui itu juga rakyat, jadi mereka pergi tanpa satu butirpun peluru, apabila terjadi apa-apa, maka merupakan tanggung jawab komandan. Akhirnya sesampai di markas koramil, dia mengajak anggota disitu untuk segera berpatroli. Yang namanya koramil, anggota tidak akan lebih dari 10 orang temasuk komandannya. Bukan komandan, kalau tidak cerdik. Dia memerintahkan anggota koramil untuk naik ke mobil bak terbuka dengan menyandan senapan M16. Kemudian dia mengikuti di belakang, dengan menyorotkan lampu besar land rover-nya ke arah mobil bak terbuka di depannya. Siapapun yang melihat, akan tampak ada iringan besar pasukan bersenjata dengan dua mobil tersebut. Sesampai ditempat pesta “sate” yang telah diinformasikan intel, komandan memberhentikan rombongannya, kemudian keluar sambil berteriak lantang : ” Pasukan di mobil depan, turun semua, periksa keadaan, pasukan dimobil belakang jangan turun dulu. Tunggu perintah saya!”. Tentunya ini akal-akalan saja, mana ada pasukan dimobil belakang selain sopir dan seorang ajudan. Rupanya, siasat agar para calon pembantai ngeper, menyangka ada pasukan besar bersenjata lengkap dengan dua mobil besar, karena mereka telah melihat pasukan yang dimobil bak terbuka saja sudah tampak banyak, apalagi jika yang di land rover, yang bisa memuat samapi 15 pasukan, turun semua. Alhasil, mereka urung untuk “menyate kodok ijo”, dan bagi komandan sangat bersyukur, karena tak satupun peluru dari senapan prajuritnya keluar